BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia bukanlah malaikat yang lepas dari kesalahan dan dosa, sanggup beribadah
dan bertasbih selamanya, namun manusia juga bukan syaitan yang senantiasa
salah, sesat dan menyesatkan, akan tetapi manusia adalah makhluk yang diberikan
dan dibekali oleh allah akal dan nafsu ditambah lagi dengan qalbu kesinambungan
akal dan nafsu disertai dengan hati yang bersih menjadikan manusia mendapatkan
derajat yang tinggi dari malaikat.
Kalau kita tengok sejarah kebelakang sebelum islam itu
datang, kita dapat temukan refernsi-referensi tentang bejad dan tercelanya
sifat para kaum-kaum jahiliyah yang tidak mempunyai peradaban yang murni mereka
hanya mengumbar nfsu belaka tanpa mementingkan etika yang baik dan mulia. Ini
semua adallah disebabkan oleh tidak adanya aturan dalam hidup, oleh sebab itu
Allah SWT mengutus seorang nabi yang merupakan nabi dan rosul terakhir yang
diutus hingga akhir zaman untuk menyempurnakan akhlak dimuka bumi ini terkhusus
bagi bangsa arab sendiri sebagaimana diterangkan dalam hadist berikut:
Artinya:
‘‘Sesungguhnya aku (Muhammad) di utus untuk menyempurnakan akhlak’’
Hadits
diatas menunjukan kepada kita, bahwa benar-benar nabi kita Muhammad SAW diutus
untuk menyempurnakan dan memaksimalkan akhlak baik di dunia ini, karena dengan
akhlak baiklah maka kan berbuah syurga yang dinanti. Maka dengan adanya
pengutusan nabi dan rosul terakhir ini terbukti adanya perubahan yang sangat
signifikan yang merubah dari zaman kegelapan menjadi zaman terang benderang. Keadaan
ini pun berlangsung sangat lama karena benar-benar pengaruh nabi Muhammad
begitu terasa.
B. Rumusan Masalah
Beberapa
masalah yang dibahas dalam makalah ini, diantaranya:
- Apakah Pengertian akhlak yang di lihat dari segi kebahasaan (Linguistik) dan segi peristilahan (Terminologi).serta perbedaanna dengan etika dan moral.
- Apa saja sumber akhlak islam
- Bagaimana ruang lingkup akhlak
- Apakah tujuan akhlak
- Bagaimana kedudukan dan keistimewaan akhlak dalam islam
- Apa macam-macam akhlak
C. Tujuan
Penulisan
Secara umum Diharapkan baik
penyusun maupun pembaca dapat lebih memahami dan menerapkan perihal Akhlak
dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga baik penyusun maupun pembaca dapat
menjadi contoh yang baik bagi lingkungannya. Selain itu juga sebagai pemenuhan
tugas mata kuliah Hadits I, agar telaksana tujuan pendidikan yang diharapkan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian akhlak,
pebedaannya dengan etika dan moral
Kata “Akhlak” berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun خُلُقٌ yang menurut
bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kata tersebut
mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun خَلْقٌ yang berarti
kejadian, yang juga erat hubungannya dengan khaliqخَالِقٌ yang
berarti pencipta; demikian pula dengan akhluqun مَخْلُوْقٌ yang berarti yang diciptakan.
Secara
epistemologi atau istilah akhlak bisa diartikan berbagai perspektif sesuai
dengan para ahli tasawuf diantaranya :
Ibnu
Maskawaih memberikan definisi sebagai berikut:
حَالً
لِلنَّفْسِ دَاعِيَةٌ لهَاَ اِلَى اَفْعَالِهَا مِنْ غَيْرِ فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya:
“Keadaan
jiwa seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa
melalui pertimbangan pikiran (lebih dahulu)”.
Imam
Al-Ghozali mengemukakan definisi Akhlak sebagai berikut:
اَلْخُلُقُ
عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ اْلَافْعَالُ
بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍمِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ
Artinya:
Akhlak
ialah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan
dengan mudah, dengan tidak memertrlukan pertimbangan pikiran(lebih dahulu)”.
Prof. Dr.
Ahmad Amin memberikan definisi, bahwa yang disebut akhlak “Adatul-Iradah” atau
kehendak yang dibiasakan. Definisi ini terdapat dalam suatu tulisannya yang
berbunyi:
عَرَفَ
بَعْضُهُمْ اْلخُلُقَ بِأَنَّهُ عَادَةُ اْلِارَادَةِ يَعْنِى أَنَّ اْلِإرَادَةَ
اِذَا اعْتَادَتْ شَيْأً فَعَادَتُهَا هِيَ الْمُسَمَّاةُ بِالْخُلُقِ
Artinya:
“Sementara
orang membuat definisi akhlak, bahwa yang disebut akhlak ialah kehendak yang
dibiasakan. Artinya bahwa kehendak itu bila membiasakan sesuatu, maka kebiasaan
itu dinakamakan akhlak.”
Makna kata kehendak dan kata kebiasaan dalam penyataan
tersebut dapat diartikan bahwa kehendak adalah ketentuan dari beberapa
keinginan manusia setelah bimbang, sedang kebiasaan ialah perbuatan yang
diulang-ulang sehingga mudah melakukannya. Masing-masing dari kehendak dan
kebiasaan ini mempunyai kekuatan, dan gabungan dari kekuatan dari kekuatan yang
besar inilah dinamakan Akhlak.
Sekalipun ketiga definisi akhlak diatas berbeda
kata-katanya, tetapi sebenarnya tidak berjauhan maksudnya, Bahkan berdekatan
artinya satu dengan yang lain. Sehingga Prof. Kh. Farid Ma’ruf membuat
kesimpulan tentang definisi akhlak ini sebagai berikut:
“Kehendak jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan dengan
mudah karena kebiasaan, tanpa memerlukan pertimbangan pikiran terlebih dahulu”.
Perbedaan akhlak dengan
etika dan moral
Pengertian etika dari segi etimologi, etika berasal dari
bahasa Yunani, Ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam
kamus umum bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang asas-asas
akhlak.
Adapun
etika secara istilah telah dikemukakan oleh para ahli salah satunya yaitu Ki
Hajar Dewantara menurutnya etika adalah ilmu yang mempelajari soal kebaikan dan
keburukan di dalam hidup manusia semuanya, terutama yang mengenai gerak gerik
pikiran dan rasa yang merupakan pertimbangan dan perasaan sampai mengenai
tujuannya yang merupakan perbuatan.
Adapun
moral secara etimologi berasal dari bahasa latin, mores yaitu jamak dari
kata mos yang berarti adat kebiasaan. Didalam kamus umum bahasa
Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan
dan kelakuan. Selanjutnya moral secara terminologi adalah suatu istilah
yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak,
pendapat atau perbuatan yang secara layak dikatakan benar, salah, baik atau
buruk.
Selanjutnya
pengertian moral dijumpai pula dalam The Advanced Leaner’s Dictionary of
Current English. Dalam buku ini dikemukakan beberapa pengertian moral
sebagai berikut:
- Prinsip-parinsip yang berkenaan dengan benar dan salah, baik dan buruk.
- Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah.
- Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.
Berdasarkan
uraian tersebut, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk
memberikan batasan terhaap aktivitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau
buruk, benar atau salah. Jika dalam kehidupan sehari-hari dikatakan bahwa orang
tersebut bermoral, maka yang dimaksudkan adalah bahwa orang tersebut tingkah
lakunya baik.
B. SUMBER AKHLAK
Yang di maksud sumber akhlak adalah
yang menjadi ukuran baik dan buruk atau mulia dan tercela. Sebagaimana
keseluruhan ajaran islam, sumber akhlak adalah Al- Qur’an dan Sunnah bukan akal
pikiran atau pandangan masyarakat sebagaimana pada konsep etika dan moral. Dan
bukan pula karena baik atau buruk dengan sendirinya sebagaimana pandangan
Mu’tazilah.
Adapun
penjelasan mengenai sumber ajaran Akhlak Islam yaitu:
1. Al-Qur’an
Al-Qur’an merupakan sumber akhlak
yang sangat akurat, sebagaimana tercantum dalam QS. Al-Ahzab 21 Artinya :
“sesungguhnya
telah ada pada diri Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi
orang yang mengharap rahmat Allah dan Kedatangan Hari kiamat dan dia banyak
mengingat Allah.”
Al-qur’an juga sebagai sumber utama dan pertama bagi
agama islam mengandung bimbingan, petunjuk penjelas dan pembeda antara yang hak
dan yang batil. Al-qur’an mengandung bimbingan tentang hubungan manusia dengan
SWT., Tuhan Maha Pencipta, maha Pengasih, dan Maha Penyayang. Sebagai contoh,
Allah mengemukakan dalam Al-Qur’an tentang seseorang yang ingin memohon
pertolongan, sebagaimana dalam QS. Al Baqarah : 45
Artinya :
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu',
Allah juga menegaskan, bahwa manusia dalam kehidupannya
mempunyai kedudukan yang sangat mulia, serta bentuk yang amat indah. Tetapi kelak
akan dikembalikan pada keadaan yang amak buruk, kecuali orang yang beriman
kepada Allah SWT. dan beramal shaleh.
Al-Qur’an juga sebagai sumber
akhlak yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan manusia. Sebagai
contoh ayat yang berkenaan dengan hubungan antar sesama manusia antara lain
(QS. Muhammad :22) :
Artinya :
“Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa
kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?”
Tentang hubungan manusia dengan alam
lingkungan, Al-Qur’an juga memuat bimbingannya. Sebagaimana disebutkan dalam
salah satu ayat(QS. Ar Rum: 41) :
AKIBAT YANG
BURUK DAN YANG BERAKIBAT BAIK DARI PERBUATAN MANUSIA
Artinya :
“Telah nampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar).”
Berdasarkan ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa
akhlak dalam islam yang menyangkut hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan
manusia, dan manusia dengan alam adalah sumber dari Al-Qur’anul Karim.
2. Sunnah
Seorang mukmin yang memiliki budi
pekerti yang baik adalah yang meneladani sikap dan sifat Nabi Muhammad SAW.
Dalam konsep akhlak, segala sesuatu itu dinilai baik atau buruk,
terpuji atau tercela, semata-mata karena Syara’ (Al-Qur’an dan Sunnah)
menilainya demikian. Kenapa sifat sabar, syukur, pemaaf, pemurah dan jujur
misalnya dinilai baik? Tidak lain karena Syara’ menilai sifat-sifat itu baik.
Begitu juga sebaliknya, kenapa pemarah, tidak bersyukur, dendam, kikir dan
dusta misalnya dinilai buruk? Tidak lain karena Syara’ menilainya demikian.
Apakah Islam menafikan peran hati nurani, akal dan pandangan
masyarakat dalam menentukan baik dan buruk? Atau dengan ungkapan lain dapatkah
ketiga hal tersebut dijadikan ukuran baik dan buruk?
Hati nurani atau fitrah dalam bahasa
Al-Qur’an memang dapat menjadi ukuran baik dan buruk karena manusia diciptakan
oleh Allah SWT memiliki fitrah bertauhid, mengakui ke-Esaan-Nya (QS. Ar-Rum 30:30).
karena fitrah itulah manusia cinta kepada kesucian dan
selalu cenderung kepada kebenaran. Hati nuraninya selalu merindukan dan
mendambakan kebenaran, ingin mengikuti ajaran-ajaran Tuhan karena kebenaran itu
tidak akan didapat kecuali dengan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Namun,
fitrah manusia tidak selalu terjamin, dapat berfungsi dengan baik karena
pengaruh dari luar, kisahnya pengaruh pendidikan dan lingkungan. Fitrah hanyalah
merupakan potensi dasar yang perlu dipelihara dan dikembangkan. Betapa banyak
manusia yang fitrahnya tertutup sehingga hati nuraninya tidak dapat lagi
melihat kebenaran. Oleh sebab itu, ukuran baik dan buruk tidak dapat diserahkan sepenuhnya hanya
kepada penilaian Syara’. Semua keputusan Syara’ tidak dapat bertentangan dengan
hati nurani manusia karena kedua-duanya berasal dari sumber yang sama, yaitu
Allah SWT.
Demikian juga halnya dengan akal pikiran. Ia hanyalah salah
satu kekuatan yang dimiliki manusia untuk mencari kebaikan atau keburukan. Dan
keputusannya bermula dari pengalaman empiris kemudian diolah menurut kemampuan
pengetahuannya. Oleh karena itu keputusan yang diberikan akal hanya bersifat
spekulatif dan subyektif.
Demikianlah tentang hati nurani dan akal pikiran. Bagaimana
dengan pandangan masyarakat? Pandangan masyarakat juga bisa dijadikan salah
satu ukuran baik dan buruk, tetapi sangat relative, tergantung sejauh mana
kesucian hati nurani masyarakat dan kebersihan pikiran mereka dapat terjaga.
Masyarakat yang hati nuraninya sudah tertutup dan akal pikiran mereka sudah
dikotori oleh sikap dan perilaku yang tidak terpuji tentu tidak bias dijadikan
ukuran. Hanya kebiasaan masyarakat yang baiklah yang biasa dijadikan ukuran.
Dari uraian di atas jelaslah bagi
kita bahwa ukuran yang pasti (tidak spekulatif), obyektif, komprehensif dan
universal untuk menentukan baik dan buruk hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah, bukan
yang lain-lainnya.
C. Ruang
Lingkup Akhlak
Akhlak pribadi
Yang
paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya
seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal
kesempurnaan akhlak yang utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani,
disamping itu manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu
manusia mempunyai kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.
Akhlak berkeluarga
Akhlak
ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib
kerabat.
Kewajiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan pendidik untuk memperhatikan
anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran yang bijak, setiap agama telah memerintahkan
kepada setiap oarang yang mempunyai tanggung
jawab
untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu untuk memiliki
akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara sabar, terdidik untuk berani berdiri
sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan dan kemuliaan.
Seorang
anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak dari
segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati
dan hormati. Karena keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik, menyekolahkan
engkau, mencintai dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik,
berguna dalam masyarakat, berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah
bahwa saudaramu laki-laki dan permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga
cinta kepada engkau, menolong ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira
bilamana engkau gembira dan membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang
kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai
ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.
Akhlak bermasyarakat
Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu
bergembira dan ikut susah jika orang tuamu susah, mereka menolong, dan
bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu
mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.
Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat
terlepas dari pendidikan sosial kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul di dalam masyarakat. Kesusilaan/moral selalu tumbuh dan
berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan masyarakat. Sejak dahulu
manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah satu sama lain, tetapi
berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan dan saling
mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan dan perkembangan
masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu sebagai anggota masyarakat
bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan norma- norma kesusilaan yang berlaku.
Akhlak bernegara
Mereka
yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat
yang berbahasa yang sama denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah
airmu, engkau hidup bersama mereka dengan nasib dan penanggungan yang sama. Dan
ketahuilah bahwa engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul
tenggelam bersama mereka.
Akhlak beragama
Akhlak
ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena itulah
ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik secara
vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan
sesama makhluk Tuhan.
D. Tujuan
Akhlak
Tujuan akhlak dibagi menjadi 2 macam, yaitu :
Tujuan Umum dan Tujuan khusus.
Adapun tujuan Umum dari akhlak adalah menjadikan diri seorang muslim dengan akhlak yang luhur dan adab yang mulia baik itu lahiriyah maupun batiniyah.Firman Allah SWt :
Tujuan Umum dan Tujuan khusus.
Adapun tujuan Umum dari akhlak adalah menjadikan diri seorang muslim dengan akhlak yang luhur dan adab yang mulia baik itu lahiriyah maupun batiniyah.Firman Allah SWt :
Artinya :
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji,
baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak
manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan
sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan)
mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".
Adapun Tujuan akhlak secara Khusus adalah :
Adapun Tujuan akhlak secara Khusus adalah :
1. Mensucikan Jiwa insaniyah dari iri, dengki, bohong, khianat, dan lainnya yang termasuk dalam akhlak yang jelek.
2. Supaya membiasakan diri untuk berakhlak mulia seperti jujur, bersikap baik, amanah, pemaaf dan lain nya yang termasuk kedalam akhlak mahmudah.
E. Kedudukan dan keistimewaan akhlak
dalam islam
Dalam
keseluruhan ajaran Islam akhlak menempati kedudukan yang istimewa dan
sangat penting. Hal itu dapat dilihat dalam beberapa nomor berikut ini:
1. Rasulullah SAW menempatkan
penyempurnaan akhlak yang mulia sebagai misi pokok Risalah Islam.
Beliau
bersabda:
“Sesungguhnya
aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Baihaqi)
2. Akhlak merupakan salah satu ajaran pokok agama Islam
Sehingga Rasulullah saw pernah mendefisinikan agama itu
dengan akhlak yang baik (husn al-khuluk). Diriwayatkan bahwa seorang
laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW:
“Ya
Rasulullah, apakah agama itu? Beliau menjawab: (Agama adalah) akhlak yang
baik.”
Pendefisinian agama (Islam) dengan akhlak yang baik itu
sebanding dengan pendefinisian ibadah haji dengan wukuf di ‘Arafah. Rasulullah
saw menyebutkan, “Haji adalah Wukuf di Arafah.” Artinya tidak syah haji
seseorang tanpa wukuf di Arafah.
3. Akhlak yang baik akan memberatkan
timbangan kebaikan seseorang nanti pada hari kiamat.
Rasulullah bersabda:
“Tidak
ada satupun yang akan lebih memberatkantimbangan (kebaikan) seorang hamba
mukmin nanti pada hari kiamat selain dari akhlak yang baik…” (HR. Tirmidzi).
Dan orang yang paling dicintai serta paling dekat dengan
Rasulullah SAW nanti pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.
Abdullah ‘Umar berkata:
“Aku
mendengar Rasululla saw bersabda: “Maukah kalian aku beritahukan siapa diantara
kalian yang paling aku cintai dan yang paling dekat tempatnya denganku nanti
pada hari kiamat?” Beliau mengulangi pertanyaan itu dua atau tiga kali. Lalu
sahabat-sahabat menjawab: “Tentu ya Rasulullah.” Nabi bersabda:”Yaitu yang paling baik akhlaknya di
antara kalian.” (HR. Ahmad)
4. Rasulullah saw menjadikan baik buruknya akhlak seseorang sebagai ukuran
kualitas imannya.
Hal ini dapat kita perhatikan dalam beberapa hadist
berikut ini:
a)
Rasulullah saw bersabda:
“Orang
mukmin yang paling sempurna imannya adlah yang baik akhlaknya.” (HR.Tirmidzi)
b)
Rasulullah saw bersabda:
“Rasa
malu dan iman itu sebenarnya berpadu menjadi satu, maka bilamana lenyap salah
satunya hilang pulalah yang lain.”
(HR.
Hakim dan Thabrani)
c)
Rasulullah saw bersabda:
“Demi Allah , dia tidak beriman!
Demi Allah, dia tidak beriman! Demi Allah, dia tidak beriman!
Seorang sahabat bertanya:”Siapa
dia(yang tidak beriman itu) ya Rasulullah?
Beliau menjawab: Orang yang
tetanggganya tidak aman dari keburukannya.”
(HR. Bukhari)
d)
Rasuullah saw bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam. Barang
siapa yang beriman kepada Allah, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya.
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia
memuliakan tamunya.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Demikianlah nampak bagi kita dalam
beberapa teks hadist di atas bahwa Rasulullah saw mengaitkan antara rasa malu,
adab berbicara dan sikap terhadap tamu dan tetangga misalnya dengan eksistensi
dan kualitas iman seseorang.
5. Islam menjadikan akhlak yang baik sebagai bukti dan buah dari ibadah
kepada Allah SWT.
Misalnya
shalat, puasa, zakat dan haji. Perhatikanlah beberapa nash berikut ini:
a)
Firman Allah SWT:
“…dan dirikanlah shalat,
sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.”(QS.Al-‘Ankabut 29:45)
b)
Sabda Rasulullah saw:
“Bukanlah puasa itu hanya menahan
makan dan minum saja tapi puasa itu menahan diri dari perkataan kotor dan keji.
Jika seseorang mencaciatau menjahilimu maka katakanlah: Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR.Ibnu
Khuzaimah)
c)
Firman Allah SWT:
“Ambillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka…”(QS.At-Taubah
9:103)
d)
Firman Allah SWT:
“(Musim) haji adalah beberapa bulan
yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan
mengerjakan haji, mak tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang
menimbulkan birahi yang tidak senonoh atau bersetubuh0 bebat fasik dan berbantah-bantahan
di dalam masa mengerjakan haji…” (QS.Al-Baqarah 2:197)
Dari beberapa ayat dan hadist di
atas dapat melihat adanya kaitan langsung antara shalat, puasa, zakat dan haji
dengan akhlak. Seorang yang mendirdikan shalat tentu tidak akan mengerjakan
segala perbuatan yang tergolong kei dan mungkar. Sebaba apalah arti shalatnya
kalau dia tetap saja mengerjakan kekejian dan kemungkaran. Seorang yang
benar-benar berpuasa demi mencari ridho Allah SWT, di samping menahan
keinginanya untuk makan dan minum, tentu juga akan menahandirinya dari segal
kata-kata yang kotor dan perbuatan yang tercela. Sebab tanpa meninggalkan
perbuatan yang tercela itu dia tidak akan mendapatkan apa-apa dari puasanya
kecuali hanya rasa lapar dan haus semata. Begitu juga dengan ibadah zakat dan
haji, dikaitkan oleh Allah SWT hikmahnya dengan aspek akhlak. Ringkasnya,
akhlak yang baik adalah buah dari ibadah yang baik, atau ibadah yang baik dan
diterima oleh Allah SWT tentu akan melahirkan akhlak yang baik dan terpuji.
6. Nabi Muhammad saw slalu berdoa
agar Allah SWT membaikkan akhlak beliau.
Salah satu
doa beliau adalah:
“(Ya Allah) tunjukilah aku (jalan
menuju) akhlak yang baik, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat memberi
petunjuk (menuju jalan) yang lebih baik selain Engkau. Hindarkanlah aku dari
akhlak yang buruk, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat menghindarkan aku
dari akhlak yang buruk kecuali Engkau.” (HR.Muslim)
7. Di dalam Al-Qur’an banyak
terdapat ayat-ayat yang berhubungan dengan akhlak baik berupa perintah untuk
berakhlak yang baik serta pujian dan pahala yang diberikan kepada orang-orang
yang mematuhi perintah itu, maupun larangan berakhlak yang buruk serta celaan
dan doa bagi orang-orang yang melanggarnya. Tidak diragukan lagi bahwa
banyaknya ayat-ayat Al-Qur’an tentang akhlak ini membuktikan betapa pentingnya
kedudukan akhlak di dalam Islam.
F. Pembagian akhlak
a.
akhlak mahmudah
akhlak
mahmudah artinya: akhlak terpuji, contoh akhlak mahmudah adalah:
- Sabar, adalah mampu menahan diri atau mampu mengendalikan amarah.
- Ikhlas, adalah mengejakan sesuatu amal hanya semata-mata karena Allah, yakni harus mengharap ridhoNya.
- Jujur, adalah mengatakan sesuatu itu dengan apa adanya dan harus dengan hati yang lurus.
- Pemaaf, adalah orang yang memberikan maaf kepada peminta maaf yang menyadari kesalahannya.
- Pemurah, adalah sikap seseorang yang ringan untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain,
- Menepati janji, adalah orang yang datang ketempat yang sudah disepakati sebelumnya.
b.
akhlak mazmumah
ahklak
mazmumah adalah akhlak yang buruk atau tercela, contoh akhlak mazmumah adalah:
- Ujub dan Takabur
Ujub
adalah mengagumi kemampuan dirinya sendiri. Sedangkan takabur, adalah
membanggakan diri karena dirinya merasa lebih dari pada yang lain.
- Ria dan Sum’ah
Ria
adalah beramal baik dan bermaksud ingin memperoleh pujian orang lain. Sedangkan
sum’ah, adalah berbuat atau berkata agar didengar orang lain sehingga namanya
jadi terkenal.
- Malas dan Tamak
Malas
adalah enggan atau tidak mau melakukan sesuatu, dan Tamak( serakah) adalah
terlalu bernafsu untuk memiliki sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri.
- Dendam dan Iri hati
Dendam
adalah keinginan untuk membalas kejahatan yang dilakukan orang lain atas
dirinya. Dan Iri hati adalah perasaan tidak senang apabila melihat orang lain
mendapat kesenangan.
- Fitnah dan Penipuan
Fitnah
adalah berita bohong atau desas- desus tentang seseorang dengan maksud yang
tidak baik. Sedangkan penipuan adalah perkataan atau perbuatan tidak jujur
dengan maksud menyesatkan seseorang dan mencari untung dari perbuatannya
tersebut.
- Bohong dan Khianat
Bohong
adalah dusta, berarti tidak sesuaidengan keadaan yang sebenarnya., sedangkan
Khianat adalah perbuatan tidak setia terhadap pihak lain.
- Bakhil dan Takut miskin
Bakhil
adalah perasaan tidak rela memberikan sesuatu kepada orang lain atau untuk
kepentingan agama. Dan Takut miskin adalah rasa cemas akan menderita hidupnya
karena kekurangan harta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar